Tampilkan postingan dengan label naga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label naga. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 Februari 2014
Naga Chini belum mati
Kisah naga terlalu sinonim dengan tasik air tawar kedua terbesar di Malaysia selepas Tasik Bera, Tasik Chini. Beratus tahun berlalu, ia masih melingkari mereka, tetapi tanpa kesan pengaruhnya.

RESTORAN terapung adalah antara yang diusahakan penduduk setempat di Tasik Chini.
![]() |
| NAGA Tasik Chini... |
BERATUS tahun lamanya legenda naga mengisi pemikiran dan kepercayaan Orang Asli yang berumah di sekitar Tasik Chini, Pekan, Pahang.
Namun bagi Tok Batin Kampung Tanjong Puput, Bahrain Sunta, 54, dia tidak pernah melihat dengan matanya sendiri kelibat sang naga yang disebut-sebut itu. Yang dia tahu, ada yang memanggil haiwan itu Seri Gumum, Seri Pahang, Seri Pekan atau Seri Daik.
Bagaimanapun, katanya, tidak menyaksikannya sendiri bukan bermakna dia tidak mempercayai legenda itu.
"Saya memang tak pernah jumpa (naga). Tetapi saya percaya ia wujud. Kalau disebut naga, itu betul, harus percaya walaupun tidak melihatnya dengan mata sendiri.
"Anak saya pernah ternampak seekor naga pada tahun 2000. Katanya dia tengok badan dan kepalanya.
"Empat tahun kemudian, seorang anak kecil nampak naga itu meluru dengan muncungnya menghala ke arahnya. Apabila anak itu menjerit, kelibat makhluk itu terus hilang.
"Budak itu ceritakan kepada kami tentang mukanya yang sebesar kepala lembu. Menakutkan! Anak itu trauma sampai demam," kenang Bahrain.
Cerita penemuan terbaru, katanya, datang daripada seorang lelaki Eropah bernama Christos yang memancing di Tasik Chini, bulan lalu. "Dia juga jumpa naga itu. Dia gambarkan naga itu seperti ular sebesar tayar motosikal," tambah Tok Batin ini.
Malah sebelum itu, ketua keluarga di Tanjong Puput ini sudah banyak kali menyaksikan penduduk kampung lari lintang-pukang kononnya ternampak makhluk misteri itu.
Mengakui mendengar kisah itu daripada nenek moyangnya melalui penceritaan dari mulut ke mulut, Bahrain turut menggunakan pendekatan yang sama terhadap anak-anaknya.
"Ia diperturunkan sebagai satu sejarah. Tujuannya ialah supaya anak-anak berhati-hati ketika menghampiri air," ujar bapa kepada 12 orang anak yang berumur antara 10 hingga 30 tahun ini.
ANAK-anak orang Asli di Tanjong Puput menjalani kehidupan yang normal dan tenang biarpun mereka terus diwariskan kisah naga.
Bahrain tidak pula menganggap mereka yang mendakwa pernah melihat naga itu sebagai memiliki kelebihan atau keistimewaan.
"Sudah nasib mereka untuk jumpa naga itu. Saya percaya ada orang tertentu saja yang boleh nampak, bukan semua orang. Tetapi mereka tidak ada kelebihan apa-apa berbanding orang lain," kata Bahrain.
Penduduk kampung juga tidak pernah risau memikirkan sang naga.
"Ia bukan ancaman untuk kami. Belum pernah lagi ia mengganggu kami. Hanya sekali-sekala dilihat di permukaan air," sambungnya.
BAHRAIN SUNTA |
Menurut Bahrain, tiada sebarang upacara dibuat untuk mententeramkan haiwan itu, jauh sekali memujanya.
Yang pasti, penduduk Tanjung Puput hidup seperti biasa, jauh daripada ketakutan terhadap seekor naga yang entahkan ada entahkan tidak.
Bahrain berkata, sudah ada antara anak kampung yang berjaya melanjutkan pelajaran hingga ke peringkat universiti.
"Seorang sudah habis belajar dan sekarang menjadi pengurus Risda di Sungai Terpai, Pahang.
"Ada juga yang sedang belajar di Universiti Putra Malaysia," jelas Bahrain. Namun dia juga mengakui ramai anak kampung yang tidak lagi menyambung pelajaran selepas tamat sekolah menengah.
Pandangan dilempar ke pondok terbuka bersebelahan. Sekumpulan wanita sedang asyik meraut batang kayu renyah, gedomba dan relung untuk mengtinjauankan sumpit.
Sima yang merupakan isteri Bahrain, cukup bersahaja melakukannya.
"Inilah aktiviti kami setiap hari. Yang perempuan buat kerja-kerja kraf atau masuk ke hutan mencari produk hutan.
"Yang lelaki masuk ke hutan untuk berburu atau ke laut mencari ikan," katanya yang menjelaskan perkataan laut sebenarnya merujuk kepada bahagian-bahagian tasik di sini.
Kemas dan halus saja buatannya. Mengukir motif daun bertangkai untuk menghiasi tinjauan kraf itu, Sima berkata setiap wanita boleh menyudahkan dua batang sumpit dalam sehari mengikut kemahiran masing-masing.
Alat yang suatu ketika dahulu ditinjauankan sebagai senjata kini lebih cenderung dijadikan alat perhiasan. Jika dahulu ia terdiri daripada kayu sepenuhnya, kini bahagian dalamnya sudah berlapik besi.
"Dulu kami dapatkan sumber sepenuhnya dari hutan. Namun sekarang kami beli hampir separuh daripadanya dari pekan," ujarnya yang menambah, barangan yang ditinjauankan dijual sehingga ke pasaran Indonesia manakala harganya ditentukan mengikut kepanjangnya.
Selain sumpit, mereka turut membuat bekas pensel dan perahu kecil untuk mainan kanak-kanak.
Saat ditanya tentang masakan Orang Asli, Sima pantas menjawab: "Sama saja apa yang kita makan. Masak lemak adalah kegemaran saya."
Langsung tidak membuat kami berasa jauh di pedalaman, Sima mudah saja berkongsi bahawa legenda naga tidak banyak mempengaruhi kehidupan seharian mereka.
Lima keluarga yang dianggotai lebih lapan orang setiap satunya meneruskan hidup di kampung ini tanpa rasa terhimpit dengan legenda yang masih bernyawa itu.
Di sebuah lagi pondok terbuka, tiga orang wanita muda sedang rancak bermain batu seremban atau selambut.
Membaling-baling bungkusan kecil pasir ke udara, kedengaran gelak tawa mengekek penuh keseronokan. Namun, tatkala kami menghampiri, masing-masing mendiamkan diri. Malu agaknya.
Sabtu, 30 November 2013
Heboh Ada Gadis Mandi Dengan Naga
Warga Prabumulih dan sebagian Muaraenim, Sumatera Selatan sejak beberapa hari terakhir heboh.
Beredar foto seorang gadis warga Desa Negeri Agung Kecamatan Rambang Muaraenim mandi bersama sesuatu yang mirip seekor naga.
Kehebohan itu terjadi setelah sebuah gambar beredar dari satu ponsel ke ponsel lain. Dalam gambar yang diduga diambil menggunakan ponsel oleh pemiliknya, terlihat jelas seekor ular mirip naga sedang berenang di belakang tubuh gadis tersebut.
Gadis yang saat mandi masih menggunakan kaos lengkap berwarna hijau bermotif love kecil di bagian depannya itu tidak menyadari kemunculan seekor naga disekitar sungai tersebut.
Apalagi saat itu ia bersama teman-temannya sedang asyik mandi. Saat foto diambil sang gadis tidak melihat kehadiran naga tersebut. Naga dengan ukuran yang tidak terlalu besar seperti direkayasa selama ini tampak asyik berenang menuju pinggiran.
Dalam foto hasil jepretannya itu, terlihat jelas seekor ular mirip naga yang memiliki warna tubuh hitam kebiru-biruan dan sedikit ditumbuhi bintik-bintik (tanda bulat) berwarna merah muda di sekujur tubuh.
Sayang, dalam foto itu tidak tampak foto penuh sang naga. Hanya terlihat sebagian badan dan ujung ekornya saja. Pada bagian kepalanya terdapat sebuah mahkota (tanduk) berwarna kuning
keputih-putihan. Begitupun pada bagian moncong hidung dan mulutnya penuh ditumbuhi kumis tipis dan dihiasi warna yang sama dengan tanduknya.
Belum diketahui siapa gadis dalam foto tersebut. Namun berdasarkan cerita masyarakat dari mulut ke mulut, gadis dengan ciri berambut panjang, berkulit putih dan beralis tebal itu adalah warga desa setempat.
"Foto itu diambil sewaktu ia mandi dengan beberapa temannya disalah satu bantaran Sungai Senuling tidak jauh dari desa," kata Paryanto (37), warga sekitar
Hasilnya, foto warga Desa Negeri Agung, Kecamatan Rambang itu menjadi buah bibir dan membuat gempar warga Prabumulih dan Muaraenim. Penampakan seekor naga kembali dikaitkan warga pada cerita rakyat Daerah Rambang.
Menurut Paryanto, berdasarkan cerita rakyat naga itu merupakan jelmaan salah seorang warga keturunan Rambang yang dikutuk menjadi naga.
Kutukan terjadi setelah ia menemukan telur besar di tepi sungai. Telur itu diam-diam di makan tanpa sepengetahuan keluarganya. Usai memakan telur, terjadi perubahan dalam tubuhnya hingga membentuk seekor naga. Hingga tujuh hari proses itu terjadi hingga membentuk tubuh naga yang lengkap.
Oleh karena bingung, akhirnya pihak keluarga melepaskan naga itu ke sungai. Bahkan keluarga membangunkan sebuah sarang tak jauh dari pinggir sungai. "Sampai sekarang sarang itu masih ada," ujarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
