Tampilkan postingan dengan label 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3. Tampilkan semua postingan
Rabu, 01 Januari 2014
Inilah 3 Gaya Foto Panas Polwan Brigadir RS
Pasca beredarnya sebuah foto bugil polisi wanita (polwan) Brigadir RS, kini muncul foto-foto yang lainnya. Bahkan, ada tiga gaya dalam foto-foto tersebut. Apa saja gayanya?
Brigadir RS merupakan anggota Polda Lampung. Pertama kali fotonya beredar di situs jejaring sosial Facebook dan membuat heboh dunia maya.
Gadis cantik yang telah lima tahun menjabat sebagai sekretaris pribadi Kapolda Lampung Brigjen Heru Winarko, itu mengambil foto sendiri dengan kamera handphone.
Foto yang pertama diambil dari depan cermin kamar tidurnya tampak Brigadir RS tanpa dibalut sehelai benang tengah mengabadikan fotonya.
Sementara di belakangnya terlihat seragam polisi yang tergantung di pintu kamar.
Sedangkan untuk foto kedua dan ketiga tidak jauh berbeda, yakni Brigadir RS tampak merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Seluruh tubuhnya terlihat dari atas yang juga tidak mengenakan busana.
Berdasarkan keterangan Kadiv Humas Polri, Irjen Rony F. Sompie, bahwa foto-foto syur itu disebarkan oleh mantan kekasih Brigadir RS yang kini sudah diamankan polisi.
Diduga, foto itu disebar lantaran pelaku kesal mengetahui Brigadir RS selingkuh.
"Mungkin karena cemburu atau sakit hati," kata Rony yang mengaku mendapat keterangan itu dari Kapolda Lampung, Brigjen Heru Winarko.
Sejak foto itu menyebar di dunia maya, Brigadir RS telah dibebas tugaskan. Hal ini sesuai dengan sanksi prosedur yang ada di tubuh Polri terhadap anggotanya.
Brigadir RS merupakan anggota Polda Lampung. Pertama kali fotonya beredar di situs jejaring sosial Facebook dan membuat heboh dunia maya.
Gadis cantik yang telah lima tahun menjabat sebagai sekretaris pribadi Kapolda Lampung Brigjen Heru Winarko, itu mengambil foto sendiri dengan kamera handphone.
Foto yang pertama diambil dari depan cermin kamar tidurnya tampak Brigadir RS tanpa dibalut sehelai benang tengah mengabadikan fotonya.
Sementara di belakangnya terlihat seragam polisi yang tergantung di pintu kamar.
Sedangkan untuk foto kedua dan ketiga tidak jauh berbeda, yakni Brigadir RS tampak merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Seluruh tubuhnya terlihat dari atas yang juga tidak mengenakan busana.
Berdasarkan keterangan Kadiv Humas Polri, Irjen Rony F. Sompie, bahwa foto-foto syur itu disebarkan oleh mantan kekasih Brigadir RS yang kini sudah diamankan polisi.
Diduga, foto itu disebar lantaran pelaku kesal mengetahui Brigadir RS selingkuh.
"Mungkin karena cemburu atau sakit hati," kata Rony yang mengaku mendapat keterangan itu dari Kapolda Lampung, Brigjen Heru Winarko.
Sejak foto itu menyebar di dunia maya, Brigadir RS telah dibebas tugaskan. Hal ini sesuai dengan sanksi prosedur yang ada di tubuh Polri terhadap anggotanya.
Kamis, 28 November 2013
Lambang Garuda 3 Kali Mengalami Perubahan
Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, Sultan Hamid II diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ia ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.
Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai anggota. Sahabat blogspot.com panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.
LAMBANG PERTAMA
Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai anggota. Sahabat blogspot.com panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.
LAMBANG PERTAMA

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M. Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.
Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
LAMBANG KEDUA

Pada tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali – Garuda Pancasila dan disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri.
AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Departemen Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “’tidak berjambul”’ seperti bentuk sekarang ini.
Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Sahabat blogspot.com Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes, Jakarta pada 15 Februari 1950.
LAMBANG KETIGA

Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno.
Tanggal 20 Maret 1950, bentuk akhir gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk akhir rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.
LAMBANG KEEMPAT

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H. Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah, Pontianak.
Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan berkas dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.
Baca juga Kisah Manusia Yang Lolos Dari Maut
Silahkan Share dengan teman anda melalui tombol share di bawah blog ini dan Dapatkan Update Terbaru dari Kami Gratis atau Mau Berkomentar? Silahkan Follow Twitter Blog ini @blackberrism atau Klik di sini, Untuk Facebook like Di sini. Komentar, Mention dan Retweet anda akan Otomatis Tampil Di Halaman Depan Blog ini. Mari Berteman dengan Pengunjung yang lain. Terimakasih
sumber:http://makassaronline.blogspot.com/2012/07/ternyata-lambang-garuda-3-kali.html
Sabtu, 23 November 2013
3 Kota Hantu Dunia
Kota hantu bisa ditafsirkan sebagai kota yang tak berpenduduk atau pernah mencapai puncak popularitasnya kemudian dilupakan karena sebab tertentu. Mengutip laporan Majalah Travelounge edisi Juli 2013, di Indonesia juga ada kota yang masuk ketegori kota hantu, yakni Sawahlunto, Sumatera Barat.

Sementara di Namibia dan Argentina, masing-masing memiliki satu kota "hantu" karena sempat ramai namun kemudian ditinggal penduduknya dan tak berpenghuni hingga kini. Berikut tiga kota hantu itu:
1. Kota Hantu Danau
Pada 1985, Kota Epecuen didera badai dan hutan tanpa henti selama berhari-hari. Akibatnya, kota yang terletak di tepian danau itu tenggelam sekitar 10 meter di bawah permukaan air. Beruntung, 1.500 penduduk Kota Epecuen berhasil dievakuasi. Tiba-tiba 28 tahun kemudian, kota ini muncul lagi setelah terjadi penyusutan volume air danau. Layaknya sebuah kota hantu, yang terlihat di sana hanya deretan gedung tinggi berlumut, rumah berantakan, dan mobil bobrok terserak di jalan. Kini, kota itu kembali ramai sebagai alternatif wisata di Argentina, meski hanya satu orang yang kini berani tinggal di sana. Setiap pekan, sekitar 25 ribu wisatawan berkunjung untuk melakukan terapi garam atau sekadar bersantai di atas air danau yang mempunyai kadar garam 10 persen lebih tinggi dari perairan sekitar.
2. Kota Gurun
Pada 1908, Zacharias Lewala, seorang buruh kasar pembangunan rel kereta api tak sengaja menemukan sebutir berlian. Ribuan orang rela pindah ke wilayah gurun tak berpenghuni di Namibia itu. Setelah berjaya selama 30 tahun, pasca-Perang Dunia I, produksi berlian menurun perlahan hingga menjadi nol pada 1954. Sejak itu, kota ini berubah menjadi kota hantu. Para penghuninya pergi. Kota tersebut benar-benar lengang dan meninggalkan sejumlah mitos hantu yang bergentayangan. Perlu izin khusus untuk memasuki kota itu.
3. Kota Batu Bara Sawahlunto
Sejak diumumkan kaya akan kandungan batu bara pada 1867 oleh peneliti Belanda, Kota Sawahlunto di Sumatera Barat berkembang pesat. Eksplorasi dilakukan dengan segala sarana penunjang dibangun. Para narapidana dijadikan buruh tambang di masa awal produksi. Diperkirakan 200 ton batu bara terkandung dalam perut bumi Sawahlunto. Namun pada 1970-an, produksi batu bara mulai turun. Kota ini pun mulai ditinggalkan dan dilupakan. Kini, Kota Sawahlunto dihidupkan kembali menjadi kota wisata bekas industri pertambangan. Setiap bulan, ratusan turis berkunjung untuk menikmati bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda dan bekas lahan tambang.
Langganan:
Postingan (Atom)